#010

I need you, but you don’t.

You’re independent. You can hold the world yourself. You own your own world. You can be solitude. You have principal.

I am nothing.

I don’t know who I am.

I don’t even know whats the meaning of my life anymore.

I need someone. I need you. But you have your own world to be taken care of.

You have your own world.

I…

…am lonely.

I’m scared.

I feel sad and weird.

I just hope you know, I just hope I won’t tired to wait.

I need you.

#009

Aku rasa aku benar-benar tergila-gila padamu.

Semua temanku menganggapku konyol, menganggapku dibutakan olehmu. Menurutku kau memesona, menurutku kau nyaris sempurna. Kau adalah segalanya. Kau memegang semua peran. Aku menganggapmu orangtuaku, sahabatku, musuhku, dan kekasihku. Aku bercerita tentang semua hal padamu, aku membual untuk membuatmu terkesan, aku selalu tertawa ketika berada di dekatmu. Rasanya ujung-ujung bibirku selalu tertarik ke atas, aku tidak bisa menyembunyikan betapa bahagianya aku saat bisa bertemu denganmu.

 

Aku juga bisa cemburu bukan main saat kau (orang yang aku anggap milikku seorang) tidak membagikan kebaikan hatimu hanya untukku saja. Aku ingin memonopolinya, memasukkannya ke dalam kotak kayu dan menguncinya rapat-rapat.

 

Ah.

 

 

Tapi kau mungkin sudah muak.

 

Jadi…

 

Aku harus bagaimana?

 

Aku tidak bisa kalau tidak dengan kau.

#delapan

Menyebalkan.

 

Kapan sih, aku tidak sebal padamu?

 

Kau itu bego. Begoooo sekali sampai-sampai rasanya aku ingin muntah mendengar ocehanmu yang terdengar seperti bualan itu. Bagaimana aku bisa percaya kalau kau benar-benar peduli padaku jika apa yang kau katakan itu sama sekali tidak ada buktinya? Aku sama sekali tidak merasakan tuh, sikap baikmu padaku. Yang aku rasakan cuma sikap menyebalkanmu yang egois dan aku memaafkannya! Ah.

Baiklah, sebenarnya lebih tepat kalau dibilang memendam kekesalan itu sampai rasanya kepalaku ingin meledak, bukan memaafkan. Aku selalu mengungkit-ungkit masalah-masalah lalu karena aku tidak bisa lupa–saking menyebalkannya tingkahmu itu!

 

Tingkahmu kekanakan!

 

Itu menyebalkan! Aku tidak suka! Pokoknya kalau aku bilang tidak suka berarti kau tidak boleh melakukan hal itu! Makanya aku bilang kau bego, habisnya kau bebal sekali kalau dikasih tahu. Sudah tahu reaksiku pasti marah-marah kalau kau bersikap kekanakan saat aku–uh–ngambek. Aku sebal sekali.

 

Kau terlalu pede!

 

Kata siapa aku bakal menyesal kalau putus denganmu!? Siapa yang bakal menyesal? Jangan buat aku tertawa, deh.

 

Pikiranmu (yang kau anggap) rasional itu sama sekali tidak sinkron dengan sikap dan ocehanku yang ngawur.

 

Mungkin (mungkin) kau akan berpikir kalau ancamanku tidak akan bertahan lama. Tapi karena tingkahmu seperti itu, mungkin ada baiknya kalau sekarang aku benar-benar akan melakukannya. Selamat, ya.

 

Karena aku juga, tidak bisa mengerti jalan pikiranku sendiri.

Deadly Storm Lightning Thunder

So tell me Im trying to define the meaning of unconditional love.

When it puts you faced down on the ground.

You’re out there sailing away.

And maybe a deadly storm will come and catch you.

Lightning thunder will strike you.

It hits your head so hard you’ll come to me…

(Adhitia Sofyan – Deadly Storm Lightning Thunder)

#tujuh

Apa dulu aku terlalu banyak tertawa hingga tabungan tertawaku habis–dan yang bisa kulakukan sekarang cuma menangis?

#006

Termangu sejenak menatap layar laptop.

“Apa yang sebenarnya sudah saya lakukan? Yang saya katakan?”

Itu semua omong kosong, aku tahu. Argumen tidak jelas yang kujejalkan secara paksa. Perasaan tidak enak ini muncul begitu saja, menghambat otak untuk berpikir lebih keras dan menggunakan fungsi yang semestinya. Tidak error macam begini. Main sambar tanpa pikir, Kukira aku gila. Kukira kalau hukum tidak ada aku bisa membunuhmu sehingga kau tidak akan macam-macam (walaupun sebenarnya aku tidak tahu kau macam-macam atau tidak).

 

Insekuritas ini…. menyesakkan.

 

Rasanya tidak jelas. Meletup-letup di rongga dada dengan sedemikian rupa dan mengacaukan perasaan. Insekuritas membuatku sinting. Aku nyaris berpikir bahwa kalau aku jadi kau maka aku akan lari secepat kilat, menjauhi diriku yang gila.

 

(atau pura-pura gila?)

 

Entahlah, aku bingung. Aku bingung. Aku bingung. Dan aku ingin menangis.

#lima

Besok.
Ujian.
Akhir.
Semester.
Saya.
tidak.
bisa.
konsentrasi.
Tuhan,
tolong saya.

 

#empat

Tidak kusangka aku bisa sebenci ini pada seseorang.

Dia mengaduk-ngaduk perasaanku, membuyarkan konsentrasiku, dan menyentil rasa kesalku sedemikian hebatnya–karena hal yang sangat sepele. Kalau dengan dia, aku bisa marah setengah mati. Aku rasa aku bisa membanting meja dapurku, melemparkan perkakas tajam ke wajahnya yang sok itu! Dia orang bejat yang paling sok alim yang pernah kulihat. Apa yang kulakukan, menurutnya selalu salah dan berdosa. Sementara dia? Dia pikir dia malaikat! Aku hampir gila dibuatnya!

orang seperti itu harusnya mati saja.

#003

Dennis Fisher membenci angka-angka. Baginya, matematika itu cukup menggunakan hitung-hitungan sederhana saja (seperti perkalian, penjumlahan, pembagian, dan pengurangan). Tapi gurunya ini sok sekali, sudah tahu ia murid yang jauh dari kata teladan, masih saja ia disuruh untuk mengerjakan soal rumit seperti itu! Merde! Ingin rasanya ia melompat keluar dan mati saja (oke, ini berlebihan). Sudut matanya mengerling, mendapati beberapa murid lain berbisik-bisik sambil cekikikan. Sial! Pasti dia jadi bahan omongan. Tarik nafas dalam-dalam, bersiap untuk dipermalukan, Tuan!

 

Hey nasib, jangan jahat-jahat dong padanya.

#002

You are the hole in my head. You are the space in my bed. You are the silence in between (what I thought and what I said). You are the nighttime fear. You are the morning when it’s clear. When it’s over, you’re the start. You’re my head and you’re my heart.

….

Heaven help me, I need to make it right.