#enambelas

“Jangan anggap dia milikmu. Anggaplah menjalin hubungan dengan seseorang yang kita inginkan itu seperti sedang menanam pohon. Kamu harus terus menerus memberinya pupuk supaya tumbuh, lalu bisa memetik buahnya. Kamu harus selalu bisa menyenangkan hatinya agar dia mau bersamamu.”

Advertisements

Ekuilibrium

Aku pesimis bahwa suatu hari aku akan berjumpa dengan titik ekuilibrium. Aku berusaha mencari, berusaha melengkapi, berlari ke semua tempat, putus asa, lelah, tapi tidak pernah mencapai apa yang aku inginkan. Titik itu berada di tempat terjauh yang tidak akan pernah kugapai dengan peringaiku yang begitu lemah dan mudah terguncang. Kutemukan seseorang, namun ada yang kurang dari dirinya, kutemukan orang lain, namun ada sesuatu dari dirinya juga yang membuatku menjadi skeptis.

Ada yang kurang.

Selalu ada yang kurang.

Dimana titik keseimbangan itu? Tidak ada.

Selalu berat sebelah. Antara aku yang merugi atau dia yang merugi.

Pria yang Menggenggam Hujan

Hari itu hujan deras.

Seorang pria datang menghampiriku, sekujur tubuhnya basah, namun ia tampak tidak peduli.

Ia berjongkok di hadapanku, menatapku dengan kedua matanya yang begitu hitam seperti batu obsidian.

“Hei.”

Itu sapanya padaku, seraya berusaha tersenyum menatapku yang terus menerus menunduk dan memalingkan muka. Bibirku terbuka ingin mengatakan sesuatu, tapi tertahan, aku hanya bisa menatapnya balik dengan kedua mataku yang mulai berair, mati-matian aku berusaha menahan lelehan hangat itu agar tidak tumpah. Kugigit bibirku, kukepalkan tanganku, kukerutkan alisku. Aku sudah melakukan semuanya.

“Kau hanya butuh pendengar dan penenang.”

Realisasi yang begitu mengejutkan menghampiriku secara tiba-tiba, membuatku tidak bisa menahan lelehan hangat itu lagi. Bulir-bulirnya yang asin mengalir pelan di pipiku, bibirku mengerut tidak terima. Aku tidak butuh pendengar, aku tidak butuh penenang, aku tidak butuh siapapun.

Aku tidak percaya siapa-siapa.

Pria itu. Pria yang telah menggenggam hujan yang terus menerus mengguyur wajahku.

Kemarin, ia berhasil membuatku tidak mempercayainya juga.

#015

Mereka seperti sekumpulan mini pie yang kubeli di Rumah Apel. Semuanya hadir dengan rasa berbeda tapi aku menyukai mereka semua. Sesuai dengan seleraku yang pembosan, aku harus mencicipi semua rasa pie dan tidak bisa hanya satu rasa yang sama dari setiap orang–semua semata-mata agar aku tidak jemu dengan suasana yang begitu-begitu saja. Dan mereka menyediakan semua rasa itu; pie apel, pie cokelat, pie krim keju, pie strawberry, dan pie lemon. Kugigiti semua pie itu dengan senang hati, menikmati rasa-rasanya yang unik dan membuatku ingin mengambil setangkup pie baru dengan rasa yang berbeda.

Namun aku mulai berpikir: rasa-rasa yang baru itu–lambat laun akan menjadi rasa yang itu-itu saja kan?

Sifatku yang pembosanlah yang harus diubah. Aku harus mulai terbiasa dengan rasa yang sama setiap hari. Harus berhenti berlari dan mencari rasa baru yang sebenarnya hanya menguras energiku dengan sia-sia. Tapi, ah, aku sudah jatuh cinta dengan tujuh rasa mini pie-ku. Aku rasa aku bisa mengubah sifat pembosan ini dengan mudah.

#014

It was a question I had worn on my lips for days–like a loose thread on my favorite sweater I couldn’t resist pulling–despite knowing it could all unravel around me.

 “Do you love me?” I ask.

In your hesitation, I found my answer.

(–Lang Leav)

Mojito

Traditionally, a mojito is a cocktail that consists of five ingredients: white rum, sugar , lime juice, sparkling water and mint. Its combination of sweetness, refreshing citrus and mint flavors is intended to complement the potent kick of the rum.

Dia seperti mojito.

Ada sedikit rasa asam manis dan soda yang meletup dilidah saat aku mengecapnya. Aku senang menatap wajahnya lama-lama, kemudian mendekatkan kepalaku kepada bahunya, menghirup aroma manis gula dari pakaian yang ia kenakan. Aku senang dengan gaya bicaranya yang asam manis dan membuatku tersenyum gemas. Aku senang dengan sikapnya yang dingin seperti daun mint dalam mojito. Aku senang dengan adiksiku padanya seperti seorang pemabuk yang membutuhkan suplai alkohol setiap hari untuk menghilangkan penat di kepala. Jika semua rasa tersebut disatukan, ia sama seperti mojito; menyenangkan dan memabukkan, dengan rasa yang nyentrik yang terkadang membuatku kewalahan dan melambung di saat bersamaan.

#tigabelas

Tidak ada yang lebih menarik ketimbang seorang wanita berparas cantik yang sedang mengaduk-ngaduk kudapan beraroma harum di dapur berpelitur kayu yang indah. Aku tidak tahu obsesi ini tumbuh sejak kapan, mungkin semenjak aku sering membantu ibuku memasak dulu. Aku, seorang pria berkemeja licin, begitu terpukau melihat ia yang sedang menyiapkan makanan untuk kami. Dengan tangannya yang sedikit keriput karena termakan usia, ia menyendok beberapa canting nasi hangat untuk manusia-manusia mungil kelaparan yang sudah mengacungkan sendok dan garpu mereka. Rasa lelah yang menyergapi pikiranku rasanya sirna. Ah, entah sampai kapan aku bisa mencintai pendamping hidupku itu.