Menyebalkan.
Kapan sih, aku tidak sebal padamu?
Kau itu bego. Begoooo sekali sampai-sampai rasanya aku ingin muntah mendengar ocehanmu yang terdengar seperti bualan itu. Bagaimana aku bisa percaya kalau kau benar-benar peduli padaku jika apa yang kau katakan itu sama sekali tidak ada buktinya? Aku sama sekali tidak merasakan tuh, sikap baikmu padaku. Yang aku rasakan cuma sikap menyebalkanmu yang egois dan aku memaafkannya! Ah.
Baiklah, sebenarnya lebih tepat kalau dibilang memendam kekesalan itu sampai rasanya kepalaku ingin meledak, bukan memaafkan. Aku selalu mengungkit-ungkit masalah-masalah lalu karena aku tidak bisa lupa–saking menyebalkannya tingkahmu itu!
Tingkahmu kekanakan!
Itu menyebalkan! Aku tidak suka! Pokoknya kalau aku bilang tidak suka berarti kau tidak boleh melakukan hal itu! Makanya aku bilang kau bego, habisnya kau bebal sekali kalau dikasih tahu. Sudah tahu reaksiku pasti marah-marah kalau kau bersikap kekanakan saat aku–uh–ngambek. Aku sebal sekali.
Kau terlalu pede!
Kata siapa aku bakal menyesal kalau putus denganmu!? Siapa yang bakal menyesal? Jangan buat aku tertawa, deh.
Pikiranmu (yang kau anggap) rasional itu sama sekali tidak sinkron dengan sikap dan ocehanku yang ngawur.
Mungkin (mungkin) kau akan berpikir kalau ancamanku tidak akan bertahan lama. Tapi karena tingkahmu seperti itu, mungkin ada baiknya kalau sekarang aku benar-benar akan melakukannya. Selamat, ya.
Karena aku juga, tidak bisa mengerti jalan pikiranku sendiri.